
Setelah seharian penuh asyik window shopping mall di Bukit Bintang, kita memutuskan untuk makan malam di KLCC sekaligus menikmati indahnya air mancur bernyanyi diantara pemandangan bulan purnama serta kerlap-kerlip lampu di sekeliling taman KLCC.
Ternyata jalan ke KLCC yang merupakan pusat kota cukup macet karena saat pulang kantor. Abang Andi berbisik kalau dia kasihan dengan sopir taxi diperkirakan rugi karena cuma minta RM 10, padahal yang lain RM 15. Btw, kalau kita naik taxi di KL meski mereka punya argo harus pakai acara tawar menawar... (so weird ya?). Dibanding taxi Blue Bird di Jakarta hal ini terasa memberatkan dan kurang nyaman karena tentunya sebagai wisatawan pasti banyak yang tidak hafal harga dan jarak tempuh yang ada. Jadi bagi yang for the first time ke KL harap berdoa semoga aja dapat supir taxi yang baik dan jujur.. hehe.




Makan malam di food court Suria KLCC... and well kita surprise ternyata harga jauh lebih murah dibanding Senayan City ataupun Plaza Senayan. Masing-masing orang hanya menghabiskan RM8 setara dengan Rp25 ribu. Tapi fakta ini tak hanya berlaku di KLCC tapi juga di mall mewah dan bergengsi lainnya dimana harga makanan di food court terjangkau untuk berbagai kalangan wisatawan. Sedangkan untuk specialities restaurant harganya sama mahalnya dengan di Jakarta. Saya kira kebijakan itu dari pemerintah Malaysia guna memajukan industri pariwisata terbukti dengan banjirnya turis dari berbagai belahan dunia.
Selesai makan malam kita pergi ke taman didepan Suria KLCC. Wow.. indah sekali pemandangannya dimana air mancur bergerak mengikuti irama lagu. Dalam 5 tahun ini sudah beberapa kali saya kesini, tapi kali ini yang saya amati makin maraknya wisatawan timur tengah yang datang sekeluarga (bahkan balita/bayi) dengan penampilan cadar serta wajah khas mereka tampak cukup mendominasi kelompok orang yang duduk menikmati malam indah di KLCC ini. Saat itu kebetulan bulan purnama semakin menambah kesempurnaan karunia alam ciptaan Allah yang dikombinasikan dengan kecanggihan manusia membangun peradabannya. Jujur saya sangat iri dengan kemajuan yang dicapai pemerintah M'sia yang sanggup membangun KL secara terpadu tahap demi tahap sehingga bisa bersaing dengan tetangga Singapura dalam menarik wisatawan turis asing. Dalam hati saya bertanya.. kapan ya Jakarta bisa begini????? (Au ah gelap..hehe)




Kami berempat duduk-duduk santai bercanda menikmati suasana sambil berfoto ria sepuasnya. Oh ya, Icha si dara bungsu tidak ikut karena sedang menginap di rumah Oomnya Edi Bakar di Bangi sekitar 50km dari KL, makanya dia tidak tampak di foto-foto ini. Kami bersyukur kepada Allah SWT bisa menikmati semua ini sekeluarga dalam keadaan damai, aman dan tentram pada 20th wedding aniversary yang mungkin tidak pernah saya bayangkan bersama suami tercinta pada waktu tahun-tahun awal kami berumah tangga. Saat ini anak-anak sudah tumbuh dewasa dan mulai menata masa depannya masing-masing. Itu sebabnya kebersamaan kami menikmati malam di KLCC terasa begitu berharga mengingat sempitnya waktu berkenaan dengan kesibukan masing-masing anggota keluarga.. Alhamdulillahi Rabbil Alamin!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar